Minggu, 19 April 2020

Mengulik Sistem Pendidikan Vokasi di Negeri Bawah Laut (2)




Di dalam sistem pendidikan Belanda, sejak awal siswa difasilitasi menemukan bakat dan minatnya, sehingga tahu arah masa depannya dengan memasuki jenjang pendidikan persiapan SMK (VMBO). Selanjutnya bakat dan minat tersebut didalami di SMK (MBO) dan difasilitasi untuk bisa belajar dalam dunia kerja yang nyata melalui project based learning dengan kontribusi aktif sektor swasta sehingga hasil proyek siswa benar-benar bisa menjawab tantangan atau masalah di sektor swasta tersebut. Ada trust bahwa sekolah mampu menyelesaikan masalah yg ada di dunia usaha dan industri sehingga mendapatkan manfaat kerjasama. Bagaimana dengan sistem pendidikan di negara kita? Tidak semudah itu mendapatkan kepercayaan dari pihak swasta. Perlu banyak langkah untuk sampai dalam tahap ini (lingkage the private sector and school). Selalu perlu langkah awal untuk mencapai langkah setinggi apapun. Peningkatan mutu SDM di sekolah sangat perlu segera dibereskan. Guru yang berkualitas yang mampu bekerja dengan mind (kompetensi profesional dan pedagogy), heart (niat tulus ikhlas untuk melayani), and hands (tindakan yang terencana dengan matang). Berikut adalah sharing apa yang sudah saya pelajari di Aeres Hoghes School Belanda

Kurikulum Hibrid
Sekolah Kejuruan di Belanda berperan penting dalam menciptakan praktik pembelajaran baru di perusahaan dan juga mendorong inovasi secara kolaboratif antara sekolah kejuruan dan dunia kerja. Sekolah kejuruan bertugas mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam lingkungan pembelajaran otentik dan mengembangkan identitas profesional yang terkait dengan dunia kerja atau industri. Berdasarkan hal tersebut, perlu diterapkan konsep lingkungan belajar hibrid” yaitu memadukan pembelajaran formal berbasis sekolah dengan situasi nyata di tempat kerja atau industri. Untuk menerapkan konsep tersebut, sekolah bersama industri perlu merancang proses pembelajaran hibrid atau yang disebut dengan “kurikulum hybrid yang memadukan pendidikan dan dunia kerja atau industri.

Bagaimana Penerapannya?
Pada tahun pertama sekolah, orientasi pembelajaran dirancang secara formal berbasis sekolah dengan menerapkan problem based learning untuik melatih ketrampilan siswa terkait komunikasi, kreatifitas, berfikir kritis, kolaborasi, dan juga sikap professional yang dibutuhkan didunia usaha dan industry.  Pada jenjang selanjutnya lingkugan belajar hybrid (memadukan lingkungan belajar disekolah dan industry) mulai diterapkan. Siswa mulai diperkenalkan dengan dunia indutri dengan melaksanakan kunjungan industri untuk melihat langsung situasi di Industri. Selanjutnya disekolah diterapkan teaching factory, suatu pembelajaran berbasis industry. Dengan kata lain siswa merasakan situasi industry melalui pembelajaran di sekolah. Semakin tinggi level siswa semakin difokuskan pada dunia kerja dengan melaksanakan kegiatan praktik kerja lapangan atau magang dan project based learning yang berbasis industry. Dalam hal ini, siswa dilatih memecahkan masalah di industri dengan bimbingan guru. Dengan demikian kurikulum hybrid dirancang sesuai perkembangan terkini dunia usaha dan industry selain juga mempertimbangkan kerangka kerja nasional. Oleh karena itu sinkronisasi kurikulum dengan dunia usaha dan industry perlu dilakukan secara rutin dalam pengembangan kurikulum sekolah kejuruan. Karena pada dasarnya sekolah kejuruan mencetak tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan industry selain berwirausaha. Sehingga sangat penting terjalinnya hubungan kerjasama atau kolaborasi antara sekolah dengan industry dalam rangka win win situation. Artinya baik sekolah maupun industry sama sama merasakan manfaat kolaborasi ini.

Apa Manfaat Kerjasama antara Pendidikan Kejuruan dan Industri?

Manfaat untuk Sekolah:
·      Pemahaman yang lebih baik tentang perkembangan pasar supaya tetap mengikuti tren serta untuk reformasi program.
·      Kurikulum dapat memenuhi kebutuhan industri. Siswa mendapatkan kuliah tamu dari para professional bidang industri tentang pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan serta kualifikasi yang dibutuhkan minimal sekali per tahun.
·      Peningkatan kesempatan kerja bagi siswa. Dengan mengenal perusahaan, fungsi pekerjaan, siswa akan lebih terdidik dan memiliki kemampuan kerja yang lebih baik.
·      Siswa tumbuh menjadi pribadi yang siap menghadapi persyaratan lapangan kerja.
·      Melalui permasalahan actual dan studi kasus yang muncul di sektor industri swasta, guru dapat menyusun tugas proyek untuk siswa.
·      Dengan melakukan kunjungan, kuliah tamu, proyek, magang, dll., siswa dapat mempraktekkan teori pengetahuan yang diperoleh.

Manfaat untuk Industri:

·           Calon  karyawan          dapat lebih memenuhi kebutuhan pengetahuan dan keterampilan sektor industri swasta, sehingga mereka lebih siap di lingkungan kerja.
          Mendapatkan karyawan dan memahami kebutuhan mereka dengan baik supaya tetap diminati kaum muda.
          Dapat menawarkan tugas proyek yang harus diselesaikan dan dipecahkan siswa dalam kelompok.
          Calon karyawan mengenal merk dagang perusahaan.
          Peningkatan sektor industri secara keseluruhan melalui kolaborasi dengan lembaga pendidikan dan pengetahuan .
          Sebagai sarana reklame (logo perusahaan di suatu sekolah, di situs web atau media sosial lainnya di sekolah).
          Melibatkan hubungan sosial di wilayah tersebut untuk membangun jaringan dan kerjasama yang kuat.

Mengulik Sistem Pendidikan Vokasi di Negeri Bawah Laut (1)



Wujud nyata kerjasama Indonesia-Belanda di bidang pendidikan sudah mulai bisa dirasakan semenjak penandatanganan noktah kesepahaman (MoU) antara Perdana Menteri Belanda,  Mark Rutte dan Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo di Jakarta pada bulan November 2016. Salah satu persetujuan yang ditandatangani adalah kerjasama di bidang revitalisasi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) berbasis pertanian yang telah dipilih sebagai proyek percontohan untuk revitalisasi SMK di Indonesia
Berdasarkan persetujuan ini, konsorsium Belanda diwakili oleh Innocap, konsorsium pelatihan Belanda yang diketuai oleh institusi pendidikan Belanda: universitas ilmu terapan Has, Van Hall Larenstein, Grup Aeres dan universitas Lentiz. Innocap sudah menyusun program pelatihan yang didanai oleh Nuffic, lembaga sosial masyarakat Belanda. Implementasi program pelatihan ini dimulai pada musim gugur 2017 dengan kegiatan kunjungan ke beberapa SMK Indonesia antara lain: SMK Negeri 5 Jember, SMK Negeri 2 Batu, SMK Negeri Bawen, SMK Negeri 2 Subang, SMK IPP Ciamis, SMK Lembang, SMK Cibadak, Pendidikan Vokasi IPB, dan  beberapa Dunia Usaha dan Industri. Atas dasar inilah, Innocap mengundang guru-guru dan kepala SMK tersebut untuk mengikuti study tour dan pelatihan di Belanda mulai 27 Januari sampai 7 Februari 2018. Salah satu guru yang beruntung mendapatkan kesempatan tersebut adalah saya. Dengan berbekal kemampuan bahasa Inggris saya yang terbatas, saya berusaha menyerap pengetahuan yang nantinya bisa diterapkan untuk kemajuan SMK Negeri 5 Jember.

Apa Misi Utamanya?
Misi utamanya adalah memahamkan peserta bahwa faktor utama keberhasilan sektor pertanian Belanda adalah dari prinsip-prinsip pendidikan dan hubungan kerjasama dengan pihak swasta di Belanda. Selain itu, peserta diharapkan bisa terinspirasi atau mengadaptasi  keberhasilan pendidikan pertanian Belanda untuk diterapkan di sekolah masing-masing.

Bagaimana Sistem Pendidikan Kejuruan di Belanda?
               Siswa dibimbing untuk mengetahui minat mereka pada tingkat paling awal di VMBO (setingkat SMP, untuk siswa umur 12-16 tahun  sehingga ketika mereka melanjutkan ke MBO (setingkat SMK), bisa menjadi salah satu jaminan bahwa siswa belajar berdasarkan pada minat sendiri dan akan bertanggung jawab dengan pilihannya. Hal ini mendorong cara belajar siswa, motivasi atau partisipasi aktif untuk mencapai tujuan mereka. Selain itu, mereka hanya mempelajaribidang keahlian yang mereka pilih. Jadi mereka harus lebih fokus daripada belajar terlalu banyak mata pelajaran seperti yang kita miliki di Indonesia. Saya sangat terkesan dengan sistem ini. Walaupun tidak mudah untuk mengubah sistem pendidikan di Indonesia, setidaknya saya dapat berbagi pendapat dengan institusi saya untuk memiliki pendekatan yang berhubungan dengan penerimaan siswa baru untuk memastikan apakah siswa baru mengambil keahlian berdasarkan pada bakat mereka sendiri dan para guru dapat secara efektif membimbing dan memfasilitasi mereka. Dalam pikiran saya akan sangat membantu dalam mencapai keberhasilan pembelajaran siswa.
               Situasi proffesional (PS) mendorong segala sesuatu yang berhubungan dengan proses belajar siswa yang mencakup materi, metode pembelajaran, bimbingan di sekolah dan di tempat kerja. Efektivitas dapat dinilai dengan meninjau bukti pembelajaran. Sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia.
Untuk mengadaptasi sistem, proses pembelajaran akan efektif jika kita melakukan penilaian kebutuhan siswa terlebih dahulu. Kami, sebagai lembaga pendidikan harus tahu apa yang dibutuhkan siswa. Sehingga kita dapat mencoba untuk memenuhinya. Ini akan menentukan rencana yang kami rancang serta proses pembelajaran yang efektif yang mempengaruhi motivasi siswa dalam mencapai tujuan mereka. Ini sejalan dengan salah satu prinsip manajemen mutu yang menekankan pada fokus pelanggan. Kita harus mengetahui harapan pelanggan (siswa) sehingga kita dapat memuaskan mereka dengan memenuhi harapan itu.

Pembelajaran Berbasis Proyek
               Menerapkan pembelajaran berbasis Proyek dengan ditentukan dari masalah nyata dalam kehidupan kita dapat menjadi jawaban dari semua pertanyaan saya di atas. Ini dimulai dengan penugasan dari klien di sekitar sekolah: pemerintah, pengusaha, petani dan lainnya. Siswa mengerjakan solusi praktis berbasis permintaan dalam organisasi siswa. Mereka memilih dari berbagai proyek. Dilatih oleh guru, siswa bekerja pada akuisisi, penjadwalan, penetapan biaya, manajemen dan eksekusi. Mereka bekerja dengan proposal pembelajaran, disiapkan oleh siswa dan diakhiri dengan presentasi di depan sektor swasta terkait. Ini adalah kesepakatan di mana pembelajaran dan hasilnya dijelaskan. Tidak hanya mendapatkan lebih banyak pengetahuan teoretis, siswa juga ditanya bagaimana proyek ini bekerja untuk kompetensi umum mereka. Di sini para siswa mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman berharga dalam praktik profesional.
Sekolah juga dapat memperkuat kerja sama dengan sektor swasta dengan memiliki bukti berdasarkan bahwa siswa (dengan bimbingan guru, tentu saja) dapat berkontribusi pada tantangan yang dihadapi sektor swasta. Dibutuhkan banyak langkah, komitmen dari pihak terkait, kerja keras, pemerintah, dan kebijakan sekolah untuk membuktikannya, tentu saja, tetapi setidaknya kita perlu langkah pertama untuk mengimplementasikannya. Jika berhasil, sektor swasta akan percaya bahwa mereka akan mendapatkan manfaat dan kemitraan berkelanjutan dapat dipertahankan.

Bagaimana kurikulumnya dan kerjasama institusi pendidikan dengan industrinya? Nantikan tulisan saya selanjutnya



Jumat, 17 April 2020

Siapa Pemegang Tongkat Estafet Selanjutnya?

“Di lembaga sebesar ini dengan sumber daya manusia yang tidak terhitung sedikit, masih susah mencari kader yang bisa dipercaya untuk meneruskan tongkat estafet ini”   Perbincangan yang mengisyaratkan keresahan ini sering saya dengar dari para senior yang memikirkan keberlangsungan, eksistensi, dan tujuan suatu organisasi. Generasi penerus atau kader dalam suatu organisasi perlu dipersiapkan dengan matang agar siap menjalankan amanat tongkat estafet.
Berawal dari harapan dan kekhawatiran sehingga ada upaya untuk melakukan sesuatu untuk melakukan perubahan yang positif. Transformasi kapasitas sistem manusia yang berfokus pada penggalian dan pengembangan kelebihan yang ada pada setiap unsur organisasi, terutama sumber daya manusianya akan menjadi penggerak perubahan budaya. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya, manusia butuh dihargai (self-esteem) sebelum pada akhirnya dapat secara optimal mengaktualisasikan dirinya (self-actualization). Maka, perubahan budaya kerja akan lebih berhasil apabila menitikberatkan kepada penghargaan dan diskusi ketimbang menyalahkan (maido dalam Bahasa Jawa), doktrinasi atau agitasi. Jika hal ini benar-benar diterapkan, maka regenerasi disebuah institusi tidak akan mengalami keterlambatan.
          Sebenarnya jika dilihat dari akar penyebab masalah, keterlambatan regenerasi suatu institusi tidak hanya dari faktor siapa yang akan diberi tetapi juga yang akan memberikan tongkat estafet itu. Terkadang para pemegang tongkat belum mau meninggalkan zona nyamannya, masih ingin berlama-lama menikmati fasilitas dengan dalih yang seolah-olah penerima tongkat masih kurang layak atau alasan yang lain. Hmmmm…manusiawi juga ya. Tapi disadari atau tidak, tidak ada yang abadi di dunia ini. Tidak luput juga jabatan yang kita duduki atau tongkat yang kita pegang. Jadi, cepat atau lambat regenerasi adalah suatu keharusan yang tidak dapat dihindari lagi demi berputarnya roda organisasi.
Lalu apa yang seharusnya dilakukan untuk mempersiapkan si penerima tongkat estafet? Berikut adalah opini penulis berdasarkan apa yang ia ketahui tentang Apreciative Inquiry ketika mengikuti pelatihan “Pengembangan Budaya Kerja Positif dan Lingkungan Belajar Kreatif di Sekolah: Appreciative Inquiry untuk Penumbuhkembangan Karakter Siswa”  yang dilatih oleh ibu Weilin Han (14-18 Januari 2020), bahwa penggalian potensi sumber daya manusia bisa dilakukan dengan cara membudayakan hal-hal sebgai berikut: (1) meyakini bahwa setiap individu pasti punya kelebihan dan kita memaksimalkan kelebihan individu yang akan dikader tersebut dengan selalu memberi respon positif seperti apresiasi atau menghargai, memuji, dan memberi masukan sehingga dia akan termotivasi untuk selalu melakukan peningkatan kompetensi untuk mengaktualisasikan dirinya; (2) kurangi atau jika bisa hindari kebiasaan merespon hal negative, misalnya mencibir atau menyalahkan; (3) beri kesempatan untuk berperan aktif menjalankan roda organisasi sesuai kelebihannya sebagai proses pendidikan yang memanusiakan manusia. Sebagai contoh diberikan tantangan sebagai koordinator kegiatan insidental, atau menjadi ketua sub divisi tertentu sesuai kompetensinya atau kelebihannya; (4) lebih menghidupkan suasana kolaborasi daripada kompetisi. Hal ini bisa dilakukan dengan tidak membandingkan personil satu dengan yang lain melainkan lebih mempertemukan indikator kinerja kunci atau kriteria sukses suatu kegiatan/proses ; dan (5) Hindari penerapan reward and punishment. Budaya ini akan menyebabkan seseorang melakukan sesuatu karena motivasi ekstrinsik: ingin dipuji, ingin di hargai bukan karena dorongan instrinsik untuk aktualisasi diri dan akan melakukan berbagai cara untuk menghindari konsekuensi yang harus diambil ketika melakukan kesalahan.

Agar pemegang tongkat estafet juga bisa mengemban amanah dengan baik, maka sebagai anggota tim manajemen perlu menjalankan manejemen merdeka dengan mengadaptasi merdeka belajar dengan prinsip: (1) komitmen terhadap tujuan. Ketika diberi tugas, tentukan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai dalam menjalankan tugas tersebut dan pahami juga tugas pokok dan fungsinya (job description), (2) mandiri terhadap cara. Hal ini bisa dilakukan dengan menyusun perencanaan yang matang berdasarkan analisa, dan (3) reflektif. Refleksi perlu dilakukan secara rutin agarmendapatkan masukan untuk penyempurnaan. 

Kamis, 16 April 2020

TETAP HOTS DI MASA PANDEMI COVID-19


Wahyu Ekawati, M.Pd
Guru SMKN 5 Jember

Dua tahun terakhir ini, sepertinya HOTS sempat menjadi kian panas karena menjadi isu nasional yang sering diperbincangkan di dunia pendidikan. Semua stakeholder pendidikan termasuk guru maupun peserta didik bergerak cepat untuk mengadaptasi hal ini. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan soal ujian baik itu Ujian Nasional maupun soal seleksi ke perguruan tinggi. Namun semenjak ada wacana Ujian Nasional dihapus, isu ini mereda dengan sendirinya. Sebenarnya HOTS (High Order Thinking Skill) atau kemampuan berpikir tingkat tinggi tidak hanya tentang soal ujian saja, justru dalam setiap proses pembelajaran dikelas hendaknya bertujuan mengembangkan HOTS. Terlebih lagi dengan sistem pembelajaran jarak jauh yang harus dilakukan ditengah pandemi corona ini, HOTS merupakan pertimbangan utama dalam menentukan tujuan pembelajaran. Jadi pertanyaannya adalah apakah pembelajaran yang dirancang untuk peserta didik masih tetap HOTS ditengah pandemi corona ini?
Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita ingat kembali apa sebenarnya HOTS tersebut. Dimensi proses berpikir dalam Taksonomi Bloom sebagaimana yang telah disempurnakan oleh Anderson & Krathwohl (2001), terdiri atas kemampuan: mengetahui (knowing-C1), memahami (understanding-C2), menerapkan (aplying-C3), menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi (creating-C6). HOTS bukanlah kemampuan untuk mengingat, mengetahui, atau mengulang, namun kemampuan pada ranah menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi (creating-C6).
HOTS atau Kemampuan berpikir tingkat tinggi ini dapat dilatihkan dalam proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajaran yang dirancang seharusnya memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan dengan melakukan serangkaian kegiatan. Kegiatan pembelajaran tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan kreatif. Ciri-ciri kegiatan pembelajaran yang bisa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah mengaktifkan siswa dalam proses: menganalisis, membandingkan, merefleksi, memberikan argumen, menerapkan konsep pada situasi berbeda, menyusun, mengambil keputusan, dan menciptakan.  
Pembelajaran untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi akan lebih efektif jika kontekstual atau berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah. Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, kebumian dan ruang angkasa, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam pengertian tersebut termasuk pula bagaimana keterampilan peserta didik untuk menghubungkan (relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply) dan mengintegrasikan(integrate) ilmu pengetahuan dalam pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan permasalahan dalam konteks nyata. Model pembelajaran yang bisa diterapkan dalam hal ini adalah Discovery Learning, Problem Based Learning, dan Project based Learning. Adapun metode ataupun teknik pembelajaran bisa divariasikan sedemikian rupa sesuai dengan level kemampuan dan lingkungan/kondisi nyata siswa.
Untuk lebih jelasnya, kita bisa membandingkan pertanyaan terkait isu terkini yaitu pandemi virus corona atau yang disebut dengan COVID-19 (Corona Virus Desease yang muncul mulai tahun 2019 ) yang bisa diterapkan untuk mengarahkan siswa agar pembelajaran menjadi lebih kontekstual. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut mengarah kepada tingkatan kemampuan berpikir mulai dari yang rendah sampai dengan yang tinggi: (1) Sebutkan gejala-gelaja orang yang terkena COVID-19? (C1 Mengetahui);  (2) Jelaskan penyebab seseorang terpapar COVID 19! (C2 memahami); (3) Ceritakan cara pencegahan COVID-19 yang di lingkungan tempat tinggalmu! (C3 Menerapkan); (4) Mengapa wabah COVID-19 sangat cepat menyebar di Indonesia? (C4 Menganalisis); (5) Bagaimana upaya yang dilakukan pemerintah dalam menangani COVID-19 sejauh ini? (C5 Mengevaluasi); dan (6)  Apa yang bisa kamu lakukan terhadap masyarakat disekitarmu dalam upaya membantu pemerintah dalam mengatasi masalah covid ini (C6 Create).
Adapun contoh penerapan sederhana dalam pembelajaran Bahasa Inggris adalah sebagai berikut. Dimasa pandemi corona ini, muncul banyak berita yang bisa diangkat untuk dijadikan bahan pembelajaran autentik. Siswa diminta mencermati pemb eritaan terkait dengan kebijakan pemerintah tentang PSBB (pembatasan Sosial Berskala Besar) dan Lockdown. Pada tahap menganalisa, siswa diminta membedakan kedua kebijakan tersebut, baik dari segi penerapan sampai dengan dampaknya. Selanjutnya siswa diminta menjelaskan kebijakan mana yang pemerintah pilih dan dilengkapi dengan ulasan tentang alasannya. Pada tahap mengevaluasi, siswa diminta menjelaskan efektifitas kebijakan PSBB yang diterapkan oleh pemerintah juga memberikan saran sebagai solusi pemecahan masalah tersebut. Pada tahap mencipta, siswa diminta membuat program aksi nyata untuk ikut menyukseskan pemerintah dalam menangani pandemi corona ini misalnya dengan membuat poster atau kreatifitas yang lain. Semoga bermanfaat.

Rabu, 15 April 2020

Tip Top Menstimulasi Kemampuan Berpikir Kritis Siswa di Masa Pandemi Corona








Wahyu Ekawati, M.Pd
SMK Negeri 5 Jember

       Pada masa pandemi corona ini, semua orang harus segera menyesuaikan diri dengan melakukan tindakan preventif dengan social distancing untuk menghindari kemungkinan tertular sekaligus memutus rantai penularan virus ini. Betapa guru saat ini dituntut harus bisa mengembangkan pembelajaran sedemikian rupa dengan prinsip bekerja dari rumah dan siswa belajar dari rumah. Tidak sedikit guru yang “mati gaya” dengan hanya sekedar memberikan tugas mengerjakan soal-soal. Namun pertanyaannya adalah apakah siswa bisa belajar dengan mengerjakan soal-soal saja?  Alih-alih siswa bisa belajar, siswa justru merasa bosan atau jenuh dan mengeluh capek. Orang tua siswa pun merasa bingung dan cenderung pasrah anaknya tidak bisa belajar tanpa guru atau sekolah.
Untuk mengatasi hal ini, hendaknya kita mengerti benar apa belajar itu. Belajar berarti proses perubahan tingkah laku, baik tingkah laku dalam berpikir, bersikap, dan berbuat yang berlangsung di dalam diri seseorang melalui serangkaian kegiatan berupa latihan atau pengalaman yang merupakan stimulant individu yang dikirim oleh lingkungan. Jika siswa belum mengalami perubahan seperti yang dimaksud diatas, berarti siswa tersebut belum belajar. Sejalan dengan itu, menurut Wahab (1986) dalam bukunya yang berjudul Metodologi Pengajaran, belajar akan bermakna apabila peserta didik dapat menghubungkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, dapat belajar secara kreatif, peka, mandiri, bertanggung jawab, dan dapat belajar berdasarkan materi pelajaran yang disusun secara logis.
Dengan memahami apa dan bagaimana belajar, guru akan lebih kreatif mencari cara agar bisa siswa masih bisa belajar dengan tetap tinggal dirumah. Iklim pembelajaran yang dikembangkan oleh guru mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan dan kegairahan belajar, demikian pula kualitas dan keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru dalam memilih dan menggunakan metode pembelajaran. Sehingga gurulah yang berperan utama dalam menciptakan suasana belajar mengajar.
       Guru kreatif akan bisa memastikan siswa mendapatkan personalisasi pengalaman belajar yang bermakna dan menantang dan sesuai dengan kemampuan anak. Dengan memanfaatkan banyaknya informasi yang siswa terima tentang Pandemi Corona baik melalui media elektronik ataupun cetak siswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang kontekstual dan menyenangkan. Misalnya tentang cara bagaimana supaya tetap produktif dirumah, kesadaran masyarakat tentang social distancing di daerah tertentu, protokol ketika berada diluar rumah, dan lain-lain.  Bisa juga melihat dari sisi salah satu media masa dalam menayangkan acara terkait Pandemi Corona yang mungkin dinilai mendidik, memberikan pengetahuan praktis ataupun sebaliknya yang kurang memenuhi persyaratan, dan lain lain. Selain itu guru kreatif juga akan memikirkan kemampuan apa yang bisa siswa capai melalui pembelajaran yang dirancang. Salah satunya adalah kemampuan berpikir kritis.
Untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, siswa perlu diberi pengalaman untuk melalui proses mental dengan menganalisis atau mengevaluasi informasi yang didapatkan dari hasil pengamatan, pengalaman, ataupun komunikasi baik secara tulis maupun lisan. Pada akhirnya siswa diminta merefleksikan dan menyimpulkan atau membuat keputusan dengan memberikan alasan yang logis, ide atau gagasan. Hal ini sesuai dengan pengertian berpikir kritis yaitu konsep untuk merespon sebuah pemikiran atau teorema yang kita terima. Respon tersebut melibatkan kemampuan untuk mengevaluasi secara sistematis (https://id.wikipedia.org/wiki/Berpikir).
                Sebagai gambaran, saat ini siswa bisa menerima informasi tentang pandemic Corona setiap saat melalui berbagai media dengan mudah.  Tentu saja informasi tersebut ada yang sudah baik dan memenuhi harapan atau kriteria tertentu yang selanjutnya dalam hal ini disebut Top. Sebaliknya, ada juga informasi yang belum memenuhi harapan atau kriteria yang dalam hal ini disebut Tip. Makna sebenarnya dari TIP menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah saran, nasihat atau petunjuk praktis dan bermanfaat untuk melakukan sesuatu. Dengan kemampuan analisa sederhana, siswa diminta memberikan saran bagaimana hal tersebut bisa ditingkatkan. Sedangkan Top adalah hal baik atau keberhasilan yang sudah dilakukan, misalnya hal baik (dampak baik) ataupun kekurangan (dampak buruk) yang bisa diamati dari penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Siswa didorong untuk melakukan analisis secara sederhana, mengevaluasi informasi tersebut sehingga bisa mengidentifikasi informasi mana yang tergolong Tip maupun Top berdasarkan hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat atau komunikasi. Selanjutnya siswa juga diminta memberikan saran agar Tip bisa ditindaklanjuti sehingga pada akhirnya menjadi Top. Melalui kegiatan Tip Top Pandemi Corona ini, kemampuan berpikir kritis siswa bisa distimulasi.